Cinta Ma'afkan Aku

Senin, 08 Oktober 2012


Cinta Ma’afkan Aku
Oleh: Kanugrahan Akbar
Tanganku masih setia memetik senar-senar gitar. Mengalunkan gerisik rentetan ritme. Tanpa terasa mulutku mengucapkan syair mengikuti nada. Kini butiran bening mulai membasahi pipi, terjun bebas ke setiap lekuk wajahku.
Aku sadar, Aku juga bersalah dalam hal ini. Akan tetapi Aku juga butuh pengertian dari Ilham. Jujur, Aku tidak ingin mengakhiri hubungan ini. Hubungan yang sudah dua tahun kurajut perlahan-lahan. Aku masih ingat setiap jengkal kenangan yang telah ku lalui bersama Ilham.
            “Wid, pulang bareng yuk!” ajak Ilham dengan semangat.
            “Maaf ham, hari ini aku mau ngerjain tugas kelompok,” dengan susah payah aku menjawab. Aku tahu, Ilham pasti kecewa.
Sebenarnya aku ingin pulang bareng Ilham. Sudah lama aku tidak pulang bersama pacarku sendiri. Semua karena kesibukanku akhir-akhir ini. Mau bagaimana lagi, semua harus kukerjakan. Mulai dari tugas kelompok, bimbel, sampai privat untuk ujian akhir nanti.
Sudah ku bilang, ini memang salahku. Seharusnya aku bisa meluangkan waktu. Walaupun hanya sekedar berbicara dengan pacaraku sendiri, atau lebih tepatnya mantan pacarku.
Tidak, aku tidak bersalah. Ilham yang seharusnya mengerti akan keadaanku saat ini. Bukankah dia juga akan ujian? ah, aku memang egois. Selalu menyalahkan orang lain.
            “Jreng, jreng, jreng,” tanganku memetik senar dengan kasar, memaksa gitar agar berbunyi. Bunyi yang keluar sama acak-acakannya dengan hati ini. Air mata yang dari tadi mengalir belum bisa terbendung. Tanpa Ilham di sini rasanya berbeda, sangat berbeda. Entahlah, aku sendiri tidak mengeti akan apa yang sekarang ku rasakan.
            Tanpa sepengetahuanku Ilham mengintip dari balik pohon. Yap! Mengintipku yang sedang memetik gitar, menyanyikan lagu, marah terhadap gitar, dan menangis. Ilham melihat semuanya. Aku tak pernah mengetahui perasaan Ilham saat ini. Mungkinkah dia merasa bebas karena telah terlepas dari cengeraman hati, ataukah dia merasakan apa yang sekarang aku rasakan.
            Setiap hari pekerjaanu hanyalah melamun. Aku belum pernah merasakan seperti ini. Ilham adalah cinta pertamaku. Selama pacaran kami selalu baik-baik saja, tidak pernah sekalipun bertengkar. Tapi, kenapa hanya karena masalah seperti ini kami bisa mengakhiri hubungan dengan mudahnya? entahlah, aku sendiri tidak mengetahuinya.
Mungkin ini adalah cobaan untuk hubungan kami. Bukankah pada setiap hubungan tidak akan pernah berjalan mulus tanpa rintangan. Tapi, sampai kapan aku akan seperti ini? tidak mungkin Ilham bisa kembali bersamaku. Sejak kejadian itu, aku belum pernah berbicara dengannya.
            “Please, kamu ngertiin aku! hari ini aku ada bimbel mendadak. Jadwalnya tiba-tiba diganti,” pintaku dengan nada melemah. Ini adalah kesekian kalinya aku mengecewakan ajakan Ilham.
            “Sampai kapan aku harus ngertiin kamu? sampai kita putus? sudah lama aku selalu bersabar untuk kesibukanmu. Kali ini saja aku minta kamu mau. Ini Aniv kita yang ke dua tahun Widya.” Ilham tetap tidak mau mengalah dengan ajakannya.
            Aku hanya diam tak menjawab. Jika harus memilih aku ingin pergi merayakan aniv, tapi jika hari ini aku harus bolos bimbel pasti akan ada kepala pecah mendengar ceramahan dari mama. Aku tahu, seharusnya cinta mau berkoban. Seharusnya aku rela kena marah untuk Ilham. Tapi apa daya aku hanya bisa seperti ini.
            “Kalo sore ini kamu nggak bisa nanti malem aku jemput.”
“Kau tahu sendiri aku tak boleh keluar malam,”
“Aku yang akan meminta izin, aku yang akan mengahadapi orang tuamu.”
“Tapi ...”
“Sudahlah, terserah kau saja.” Saat itu juga Ilham melangkah meninggalkanku yang masih berdiri terpaku.
            Aku mencoba kembali menenangkan hati. Menghanyut dalam syair lagu yang membuatku semakin mengingat masa-masa indah bersama Ilham. Mulai dari makan es krim bersama, lari-larian di pantai, sampai sebuah kejadian yang paling membuatku hancur berkeping keping.
            “Ilham,” pekik ku yang melihat Ilham berdua dengan seorang cewek di depan kelas.
            Ilham justru melanjutkan bercandanya dengan cewek tadi, seolah tak ada aku di sini. Dia menyindirku. Membuatku cemburu. Saat itu pula aku menyadari akan semua yang telah kulakukan. Aku tahu aku salah, aku sudah dikalahkan oleh rasa obsesi. Tapi mengapa Ilham selingkuh? ternyata benar, hati seorang cowok memang tidak pernah betah kosong sebentar apapun.
            “Ilham kau ...,” belum sempat aku melanjutkan, Ilham sudah memotongnya.
            “Eh ada Widya. Wid, kenalin ini pacar baru gue,” Ilham mengucapkannya dengan nada biasa. Seperti tak pernah merasa jika dia telah melakukan hal yang tidak boleh dilakukn dalan hal pacaran.
Ilham tak salah, dia berhak memilih cewek lain, dia berhak mengakhiri hubungan dengan cewek yang selalu mengecewakannya. Meski Ilham tak pernah mengatakan kata putus, aku rasa kejadian ini seperti mengatakan hal itu. Berakhirnya sebuah hubungan.
            Lagu ini membuatku semakin mengahanyut. Berulang kali aku memainkannya. Apa benar aku yang salah? Ah, aku memang salah. Aku ingin Ilham tahu akan perasaanku saat ini. Aku ingin dia ada di sini menenangkan hatiku. Tidak, aku tak butuh dia, Ilham sudah selingkuh. Dia jahat.
            Aku benci fikiranku, kenapa hanya berisi saling beradu. Antara menyalahkan diri sendiri dan menyalahkan Ilham. Sampai kapan fikiranku akan seperti ini? tidakkah aku harus mengakhirinya. Aku ingin semuanya selesai. Aku ingin kembali tersenyum.
            Kau tahu? Pekerjaan yang kulakukan hanyalah sia-sia. Aku yang berusaha keras mengikuti bimbel ini itu untuk mendapatkan nilai tertinggi, mungkin tak akan membuahkan hasil. Saat ujian minggu kemarin aku tak bisa berkonsentrasi, hanya ada Ilham di kepalaku.
Sekarang aku sadar, ternyata tidak hanya belajar yang dibutuhkan untuk melewati ini, namun juga sebuah ketenangan hati dan fikiran. Pengumuman memang belum keluar, tapi aku yakin nilaiku tak akan sebaik yang aku perkirakan sebelumnya. Menyebalkan, dasar bodoh.
            Acara prom nite tahun ini sama seperti tahun kemarin. Dilaksanakan pada malam hari. Ini acara sekolah, lagi pula ini adalah acara tanda akhir sebuah perjalnan masa putih abu-abu. Orang tuaku tak akan melarang untuk keluar mengikut acara ini. Seandainya hubunganku dengan Ilham belum berakhir, pasti malam ini akan menjadi malam yang menyenangkan. Semoga saja berakhirnya aku sekolah di sini, aku juga bisa melupakan Ilham. Mungkin inilah jalan yang sebenarnya. Tapi, apakah aku bisa melakukannya? Aku rasa tidak. Pasti sangat sulit.
            Ruangan ini redup, bahkan sama redupnya dengan suasana malam di luar sana. Aku hanya duduk di bangku yang dekat dengan pintu keluar. Dengan harapan, jika sudah suntuk aku bisa langsung keluar dan pulang.
Acara resmi sudah selesai. Berbagai sambutan dari ketua panitia, wakil kelas XII, kepala sekolah, berlalu begitu saja melewati rongga telinga. Giliran acara hiburan, hal paling menyebalkan yang akan menemani malam ini.
Drama bernuansa horor tak membutku ketakutan, dance yang penuh komedi tak membuatku tertawa, kehebatan berbagai bakat tak berhasil membuatku kagum. Semuanya kosong di depan mata. Mungkin inilah yang namanya melihat akan tetapi tak masuk ke fikiran. Mungkin aku akan kabur pulang sebelum puncak acara di mulai. Aku tak ingin ikut menari dan berdansa menghabiskan malam mengikuti puncak acara.
Aku yang hendak berdiri dan keluar seketika duduk kembali karena semua lampu semakin meredup. Gelap, tidak tampak satu orangpun. Sebuah lampu sorot mengarah tepat padaku, membuat mata menyipit karena silau. Hanya aku yang terlihat di sini. Lampu sorot kedua muncul perlahan di atas panggung mengiringi ucapan seorang cowok yang duduk memegang gitar.
“Lagu ini special buat seseorang yang selalu berhasil meluluhkan hatiku.”
Mataku memicing kedepan, memperhatian sosok di depan sana. Dia Ilham, ya Ilham. Meski tidak menyebutkan nama, semua orang tahu yang dimaksud Ilham adalah aku. Lampu sorot ini tak bergeser sedikitpun. Menyinari seluruh tubuhku, membuatku menjadi orang paling terlihat di ruangan ini. Meski aku tak bisa melihat sekeliling, aku yakin, semu mata memandang kearahku saat ini.
            Ilham mulai memetik senar-senar gitarnya, membunyikan rentetan nada yang ada di kepala. Mengalunkan syair penuh perasaan. Sepertinya ruangan ini hanya dipenuhi suara ilham yang mengerikan, membuat merinding. Tak ada sekecil suara apapun yang mampu menganggunya.
            Awalnya aku terhipnotis oleh lagu yang di nyanyika Ilham, akan tetapi sekarang tidak. Aku berhasil lari dari lampu sorot itu. Sayup-sayup terdengar suara tepuk tangan yang menggema. Aku hanya bisa berdiri di luar, berusaha menghentikan aliran deras yang terjun dari mataku. Dengan gontai aku berjalan menuju parkiran yang letaknya agak jauh dari gedung.
            Langkahku terhenti, ada yang menarik tanganku dari belakang. Siapa lagi jika bukan Ilham. Aliran darah behenti, semua otot menegang, rasanya tubuh ini kaku mendadak. Perlahan Ilham memagang kedua pundakku, membalikan badanku agar berhadapan dengannya. Tak ada yang bisa ku lakuan selain menundukan kepala, menutupi mataku yang masih mengurai air mata.
            Tangan kanan Ilham memegang daguku. Mengangkatnya pelan-pelan, mataku tetap saja menutup. Aku tak berani menatap mata Ilham. Aku takut, tangisku akan semaki deras.
            “Maafakan aku,” gumam Ilham tepat di depan wajahku, dia pasti sedang menatap mataku yang terus mengatup.
            Tanpa menunggu jawaban, Ilham menghempaskan tubuhku ke dadanya. Mendekapku erat tanpa ampun. Seluruh ototku yang menegang seketika relaks, aliran darahku yang berhenti seketika mengalir deras. Aku rindu pelukan ini. Sudah lama aku tak merasakan kehangatan berda di dadanya.

0 komentar: