Dalam
Diam
Oleh:
Kanugrahan Akbar
Dikala sepi datang menerpa, hanya bayangmu yang ada
Dikala ramai datang menemani, hanya dirimu di ingatan
ini
Bergetar hati saat berjumpa, apakah ini yang namanya
cinta
Sebuah rasa yang membebani, jika hanya dipendam sendiri
Jari-jariku
berhenti menekan tombol-tombol huruf pada keyboard. Tetes demi tetes buliran
bening turun membasahi pipi, terjun bebas ke setiap lekuk wajahku. Aku benci
hal ini, hanya karena menulis aku menangis. Aku memang bukan seorang penyair
yang bisa membuat orang lain menangis karena tulisanku. Aku hanyalah orang yang
menulis dengan hati. Aku bisa menangis karena tulisanku sendiri, meski orang
lain tidak.
Dasar
bodoh, kenapa aku harus menangis? Bukankah jatuh cinta itu menyenangan?
Bukankah mengagumi seseorang itu bisa membuat senyum merekah? Ah ... itu semua
hanya omong kosong. Aku tak pernah merasa senang apa lagi tersenyum. Hanya ada
sakit yang menghujam sampai relung hati dan hanya ada rasa perih yang
menyayat-nyayat tanpa henti.
Menyakitkan,
sangat menyakitkan. Aku hanya bisa memendamnya sendiri. Mengaguminya dalam diam.
Aku tak pernah percaya yang namanya curhat dengan orang lain. Menurutku bukan
mengurangi beban yang ada, hanya akan membuatku khawatir. Khawatir jika rasaku
yang telah terpendam akan bocor begitu saja. Aku hanya bisa mencurahkannya
dalam rentetan kata yang tertulis di dokumen netbook.
Setiap
detail bayangan wajahnya tak pernah bisa hilang. Selalu menari-nari di kepala.
Kadang aku menyukai hal ini, akan tetapi kadang aku juga membenci hal ini. Aku
tak pernah mengerti apa sebenarnya rasa yang ada di dada ini. Terlalu abstrak
untuk dijelaskan. Aku ingin sedetik saja melupakannya. Menghapus rasa yang
bergelayut. Seandainya aku bisa memutar waktu, aku tak ingin pernah
mengenalnya. Karena aku tahu, rasa ini tak mungkin terbalaskan.
Sejak
kapan rasa ini datang? Entahlah, yang pasti tak pernah bisa dimasukan dalam
logika. Menyebalkan, seandainya saja aku ditakdirkan sebagai cewek yang
overact, pasti aku sudah banyak tingkah untuk memikat hatinya. Memberikan
sinyal-sinyal cinta yang aku punya. Sayangnya aku hanyalah cewek pendiam yang
selalu berkutat dengan buku atau netbook.
Posisi
duduknya yang tak pernah tegak, kepalanya yang selalu menunduk, Rambut lebatnya
menutupi wajah. Aku hanya bisa melihatnya dari belakang. Menatap tanpa
berkedip. Hampir setiap hari aku melakukannya. Dia selalu terlihat apa adanya,
tak penah berlebihan dalam melakukan segala hal.
Aku
bersyukur, bahkan sangat bersyukur. Selama ini tak pernah ada yang curiga,
meski aku selalu memperhatikannya. Meski aku sering tersenyum sendiri ketika
mengingat bayang wajahnya. Dasar gila! Ah, aku memang gila. Gila karena sebuah
rasa yang tak tentu arahnya. Rasanya yang tak pernah mau lepas dari hati ini.
Dalam diam ku mengagumimu
Memikirkan segala tentangmu
Melihat bayang lakumu
Dalam senyum kau hanyutkanku
Selalu kamu dan hanya dirimu
Aku setia meski semuanya semu
Mungkin
akulah cewek paling setia di dunia. Jika saat ini masih maraknya selingkuh, aku
hanya bisa terus mengagumi cinta pertamaku. Tak peduli berapa lama, aku hanya
ingin menyimpannya sampai rasa ini hilang dengan sendirinya. Aku hanya ingin
menikmati setiap aliran waktu yang tak pernah berhenti berjalan.
Hatiku
bergetar hebat, darah mengalir deras, nyawaku sudah terbang entah kemana.
Matanya yang redup sedang beradu dengan mataku. Senyumnya yang tiba-tiba
menjuntai seketika membuat nyawaku kembali. Apa yang kulihat barusan benar? Dia
menatapku, dia tersenyum. Ah, tak mungkin. Tapi aku sudah hafal setiap lekuk
tubuhnya. Meski dari jarak yang agak jauh aku tak salah. Itu pasti Bisma.
Apa
ini takdir? Sering sekali aku berpapasan dengannya. Memandang sekilas ketika
berjalan berlainan arah tanpa ada orang lain. Meski demikian, aku tak pernah
berani lama memandang wajahnya yang menawan. Kadang aku hanya bisa membalas
senyumnya dengan kikuk. Ah, Apa aku menyia-nyiakan kesempatan?. Tapi mau
bagaimana lagi, aku tak akan sanggup.
Fikiran
tak bisa merasakan jika aku masih menatap matanya, hanya hatiku yang mendorong
melakukan itu tanpa sadar. Bodoh, kenapa aku melakukannya. Seharusnya aku sadar,
cowok sepopuler dia tak mungkin menyukaiku. Cowok seperfect dia pasti sudah ada yang memiliki.
Waktu
berhenti berdetik, dunia menghentikan aktifitasnya. Aku yang masih duduk di
depan kelas hanya terpaku melihat dia yang belalu. Meski aku satu kelas dengannya,
meski aku sering bertemu dengannya. Aku tak pernah ingin melewatan sedikitpun
gerak-geriknya. Dia tak memerhatikannku, hanya teman yang berjalan dengannya
yang menoleh.
Aku
melihatnya, tangan temannya itu menyeggol-nyenggol pinggangnya, kemudian dia
seperti membesikan sesuatu. Entah apa yang mereka bisikan. Seandainya saja dia
tahu, aku ada di sini. Aku menunggunya menjemput hatiku. Aku ingin bersama
dengnnya layaknya seorang remaja yang jalan berdua dengan seorang cowok.
Senja ...
Pada bentangmu yang indah
Terlukis bayang wajahnya
Senja ...
Pendaran cahaya jinggamu
Adalah saksi akan cintaku
Belum
selesai aku mengetik, layar di depanku yang semula menampilkan program MS Word
seketika berubah hitam kelam. Dasar, selalu saja seperti ini. Sudah sering
netbookku tiba-tiba mati. Katanya sih sudah sudah rusak, harus di servis atau
membeli yang baru. Mungkin aku bisa melakukannya, tapi aku masih sayang
terhadap netbook ini. Aku masih ingin dia menemaniku setiap saat, tanpa
tergantikan dengan yang baru.
Jari-jariku
memencet banyak tombol secara bergantian. Mulai dari esc, f1, f2, enter, dan
spacy. Tetap saja tak mau menyala. Pasti rusaknya sudah parah. Aku tetap sibuk
mengutak atik, tak peduli dengan keadaan sekitar.
Langit
jingga membentang. Pohon-pohon hijau mulai berubah menjadi samar termakan
cahaya. Air danau ikut membiaskan warna cahaya. Disinilah aku sering
menghabiskan sore. Menulis apa saja yang sedang kurasakan.
“Hei
...,” sebuah suara berat datang dari sebelah aku duduk.
Refleks
aku kaget dan menoleh. Benarkah yang kulihat? Dia Bisma. Ah, mungkin ini
hanyalah ilusi. Aku terlalu memikirkannya. Tapi tidak, dia benar-benar Bisma.
Senyumnya yang merekah semakin membuatku mengerutkan dahi.
“Kenapa?”
tanya Bisma dengan memandang netbook putih di tanganku.
“Eh,
em. Ini, mendadak mati,” jawabku gelagapan karena masih tak percaya jika yang
dihadapanku benar-benar Bisma.
“Boleh
liat?” tanya Bisma lagi.
“Boleh,”
seketika aku mengangkat netbook dan meletakannya di pangkuan Bisma. Ah, dia selalu
berhasil membuatu salah tingkah.
Diam,
sepertinya dia serius melakukan sesuatu. Aku hanya bisa terus memperhatikannya
ditemani langit jingga. Tak lama kemudian netbooku menyala, akan tetapi layar
tetap hitam. Hanya ada tulisan putih dengan bahasa pemprograman.
“Windowsnya
eror. Harus diprogram ulang,” ucap Bisma kemudian.
“Yah,
gimana benerinnya?” keluhku sekaligus bertanya.
“Mungkin
aku bisa, tapi butuh waktu lama, mau?” jawab Bisma sambil menoleh ke arahku.
“Iya
deh, lama juga ngak pa pa asal bisa bener lagi. Bawa pulang aja netbookku.”
Jawabku yang merasa hari sudah sore.
Gerimis
kecil perlahan turun mengguyur bumi. Bisma langsung mendekap netbook dibalik
jaketnya. Kami berdiri dan berteduh di bawah pohon yang cukup rindang. Kami
berdua di sini. Menikmati gerimis yang dihias dengan matahai yang mulai
menyusup bersembunyi dan juntaian sunset yang membentang, hal yang selalu
kunanti setiap sore.
Bodoh,
dasar bodoh. Aku memaang bodoh. Kenapa aku membiarkan Bisma yang membenarkan
netbookku. Aku takut dia membacanya, membaca semuanya. Aku malu, ah bodoh.
Kenapa folder diary harus terpampang di dekstop. Kenapa tidak di sembunyikan
saja dengan kata sandi.
Bodoh,
bodoh, bodoh. Tak hentinya aku memukul-mukul bantal yang tak berslah. Baru saja
tadi sore aku merasa lebih baik atas rasa ini. Sedangkan saat ini harus terus
menyalahan diri sendiri. Aku benci diriku.
Rasanya
hari ini berlalu tanpa sebuah kejadian. Sepi dan memuakan. Aku hanya duduk diam
di kelas meski jam menunjukan waktu istirahat. Aku tak peduli jika hanya ada
Bisma di depan sana. Tak ada orang lain di kelasa ini selain aku dan Bisma. Ah,
aku ingin sejenak melupakan keresahan ini.
“Nih.”
Lagi-lagi Bisma mengagetanku. Dia meletakan netbook di depanku.
“Thanks,”
aku mencoba menjawab dengan ekspresi sedatar mungki.
Dengan
tergesa-gesa aku melangkah. Menyusuri koridor sekolah yang sudah lenggang.
Langkahku membawa ke sebuah sudut sekolah tepat di lantai paling atas yang tak
ada siapapun. Aku sering berada di sini setiap pulang sekolah untuk melihat
awan. Aku suka ketenangan tempat ini.
Tubuhku
sudah terhempas di atas lantai yang dingin. Tanganku sibuk mengeluarkan netbook
dan menyalakannya. Entah mengapa, aku ingin memastikan keadaan netbookku.
Walaupun jika Bisma membukanya tak akan ada jejak, entah mengapa aku ingin
memeriksanya.
Jemariku
menggeser kursor dan mengkliknya pada folder dekstop yang bernama “My Dairy”.
Dalam folder itu seharusnya ada dua folder lagi. Folder yang berisi puisi dan
coretan. Tapi .... Ah, ada satu file diantara dua folder. Nama file itu
membuatku mengerutkan kening. “From Me”. Perlahan jariku mengarahkan kursor
pada file. Menklikny dua kali aga terbuka.
Setiap detik ku menanti hingga saatnya bertemu dengan
dirimu
Menit demi menit hilang kulalui tiada tenang
Hati ini gelisah, hati ini resah menanti esok hari
Menanti datangnya pagi, perjumpaan denganmu selalu ku
tunggu
Bila bukan cinta, mengapa hatiku menyimpan dirimu
Bila bukan sayang mengapa hari-hariku tak lengkap tanpa
kehadiranmu
Dan bila bukan suka mengapa mataku slalu mencari
bayangmu dan telingaku mencari suaramu
Apa
mungin yang menulis file itu Bisma. Ah, apa maksudnya? Tak mungkin dia
melakukannya. Tapi, jika bukan dia, siapa lagi? Dasar, Bisma selalu saja
membuat hatiku bergejolak. Membuat semua rasa bercampur aduk.
Kau
tahu? Saat ini di kelas aku berusaha tak memperhatikan Bisma. Entah aku yang ge
er atau bagaimana, yang pasti Bisma sering tetangkap basah oleh mataku. Ingin
rasanya aku menanyakan tentang file itu. Tapi, bagaimana caranya? Tak mungkin
aku menghampirinya. Bahkan, di kelas ini aku tak pernah berbicara dengannya.
Sudah kubilang dari awal, aku hanya, mencintanya dalam diam. Tak ada yang bisa
diceritakan dengan sebuah percakapan. Hanya ada rasa ini. Ya, rasa ini.
Tanganku
besembunyi di dalam saku jumper. Aku suka menyendiri. Melihat awan, senja, dan
bintang. Udara malam Kota Bandung yang dingin tak bisa menghalangiku keluar
rumah untu mencari tempat sunyi.
Di
sinilah aku terbiasa duduk sendiri, memandang langit kelam yang berhiaskan
bulan dengan taburan sedikit bintang. Jika bukan malam minggu, taman ini selalu
sepi. Hanya menyisakan beberapa rimbun semak dan pohon yang tertata. Tak ada
yang berlalu lalang atau sekedar duduk kecuali aku.
“Hei,”
lagi-lagi suara serak ini mngagetkanku. Membuatku yang mengenal pemiliknya
menoleh. Siapa lagi jika bukan Bisma, mata kami beradu agak lama. Lebih lama
dari biasanya. Bahkan aku belum sempat menjawab sapaannya. Ah, selalu saja.
Jantungku melompat-lompat tanpa henti.


0 komentar:
Posting Komentar