Dalam Diam

Senin, 08 Oktober 2012



Dalam Diam
Oleh: Kanugrahan Akbar

Dikala sepi datang menerpa, hanya bayangmu yang ada
Dikala ramai datang menemani, hanya dirimu di ingatan ini
Bergetar hati saat berjumpa, apakah ini yang namanya cinta
Sebuah rasa yang membebani, jika hanya dipendam sendiri
            Jari-jariku berhenti menekan tombol-tombol huruf pada keyboard. Tetes demi tetes buliran bening turun membasahi pipi, terjun bebas ke setiap lekuk wajahku. Aku benci hal ini, hanya karena menulis aku menangis. Aku memang bukan seorang penyair yang bisa membuat orang lain menangis karena tulisanku. Aku hanyalah orang yang menulis dengan hati. Aku bisa menangis karena tulisanku sendiri, meski orang lain tidak.
            Dasar bodoh, kenapa aku harus menangis? Bukankah jatuh cinta itu menyenangan? Bukankah mengagumi seseorang itu bisa membuat senyum merekah? Ah ... itu semua hanya omong kosong. Aku tak pernah merasa senang apa lagi tersenyum. Hanya ada sakit yang menghujam sampai relung hati dan hanya ada rasa perih yang menyayat-nyayat tanpa henti.
            Menyakitkan, sangat menyakitkan. Aku hanya bisa memendamnya sendiri. Mengaguminya dalam diam. Aku tak pernah percaya yang namanya curhat dengan orang lain. Menurutku bukan mengurangi beban yang ada, hanya akan membuatku khawatir. Khawatir jika rasaku yang telah terpendam akan bocor begitu saja. Aku hanya bisa mencurahkannya dalam rentetan kata yang tertulis di dokumen netbook.
            Setiap detail bayangan wajahnya tak pernah bisa hilang. Selalu menari-nari di kepala. Kadang aku menyukai hal ini, akan tetapi kadang aku juga membenci hal ini. Aku tak pernah mengerti apa sebenarnya rasa yang ada di dada ini. Terlalu abstrak untuk dijelaskan. Aku ingin sedetik saja melupakannya. Menghapus rasa yang bergelayut. Seandainya aku bisa memutar waktu, aku tak ingin pernah mengenalnya. Karena aku tahu, rasa ini tak mungkin terbalaskan.
            Sejak kapan rasa ini datang? Entahlah, yang pasti tak pernah bisa dimasukan dalam logika. Menyebalkan, seandainya saja aku ditakdirkan sebagai cewek yang overact, pasti aku sudah banyak tingkah untuk memikat hatinya. Memberikan sinyal-sinyal cinta yang aku punya. Sayangnya aku hanyalah cewek pendiam yang selalu berkutat dengan buku atau netbook.
            Posisi duduknya yang tak pernah tegak, kepalanya yang selalu menunduk, Rambut lebatnya menutupi wajah. Aku hanya bisa melihatnya dari belakang. Menatap tanpa berkedip. Hampir setiap hari aku melakukannya. Dia selalu terlihat apa adanya, tak penah berlebihan dalam melakukan segala hal.
            Aku bersyukur, bahkan sangat bersyukur. Selama ini tak pernah ada yang curiga, meski aku selalu memperhatikannya. Meski aku sering tersenyum sendiri ketika mengingat bayang wajahnya. Dasar gila! Ah, aku memang gila. Gila karena sebuah rasa yang tak tentu arahnya. Rasanya yang tak pernah mau lepas dari hati ini.

Dalam diam ku mengagumimu
Memikirkan segala tentangmu
Melihat bayang lakumu
Dalam senyum kau hanyutkanku
Selalu kamu dan hanya dirimu
Aku setia meski semuanya semu

Mungkin akulah cewek paling setia di dunia. Jika saat ini masih maraknya selingkuh, aku hanya bisa terus mengagumi cinta pertamaku. Tak peduli berapa lama, aku hanya ingin menyimpannya sampai rasa ini hilang dengan sendirinya. Aku hanya ingin menikmati setiap aliran waktu yang tak pernah berhenti berjalan.
Hatiku bergetar hebat, darah mengalir deras, nyawaku sudah terbang entah kemana. Matanya yang redup sedang beradu dengan mataku. Senyumnya yang tiba-tiba menjuntai seketika membuat nyawaku kembali. Apa yang kulihat barusan benar? Dia menatapku, dia tersenyum. Ah, tak mungkin. Tapi aku sudah hafal setiap lekuk tubuhnya. Meski dari jarak yang agak jauh aku tak salah. Itu pasti Bisma.
Apa ini takdir? Sering sekali aku berpapasan dengannya. Memandang sekilas ketika berjalan berlainan arah tanpa ada orang lain. Meski demikian, aku tak pernah berani lama memandang wajahnya yang menawan. Kadang aku hanya bisa membalas senyumnya dengan kikuk. Ah, Apa aku menyia-nyiakan kesempatan?. Tapi mau bagaimana lagi, aku tak akan sanggup.
            Fikiran tak bisa merasakan jika aku masih menatap matanya, hanya hatiku yang mendorong melakukan itu tanpa sadar. Bodoh, kenapa aku melakukannya. Seharusnya aku sadar, cowok sepopuler dia tak mungkin menyukaiku. Cowok seperfect  dia pasti sudah ada yang memiliki.
            Waktu berhenti berdetik, dunia menghentikan aktifitasnya. Aku yang masih duduk di depan kelas hanya terpaku melihat dia yang belalu. Meski aku satu kelas dengannya, meski aku sering bertemu dengannya. Aku tak pernah ingin melewatan sedikitpun gerak-geriknya. Dia tak memerhatikannku, hanya teman yang berjalan dengannya yang menoleh.
            Aku melihatnya, tangan temannya itu menyeggol-nyenggol pinggangnya, kemudian dia seperti membesikan sesuatu. Entah apa yang mereka bisikan. Seandainya saja dia tahu, aku ada di sini. Aku menunggunya menjemput hatiku. Aku ingin bersama dengnnya layaknya seorang remaja yang jalan berdua dengan seorang cowok.

Senja ...
Pada bentangmu yang indah
Terlukis bayang wajahnya
Senja ...
Pendaran cahaya jinggamu
Adalah saksi akan cintaku

            Belum selesai aku mengetik, layar di depanku yang semula menampilkan program MS Word seketika berubah hitam kelam. Dasar, selalu saja seperti ini. Sudah sering netbookku tiba-tiba mati. Katanya sih sudah sudah rusak, harus di servis atau membeli yang baru. Mungkin aku bisa melakukannya, tapi aku masih sayang terhadap netbook ini. Aku masih ingin dia menemaniku setiap saat, tanpa tergantikan dengan yang baru.
            Jari-jariku memencet banyak tombol secara bergantian. Mulai dari esc, f1, f2, enter, dan spacy. Tetap saja tak mau menyala. Pasti rusaknya sudah parah. Aku tetap sibuk mengutak atik, tak peduli dengan keadaan sekitar.
            Langit jingga membentang. Pohon-pohon hijau mulai berubah menjadi samar termakan cahaya. Air danau ikut membiaskan warna cahaya. Disinilah aku sering menghabiskan sore. Menulis apa saja yang sedang kurasakan.
            “Hei ...,” sebuah suara berat datang dari sebelah aku duduk.
            Refleks aku kaget dan menoleh. Benarkah yang kulihat? Dia Bisma. Ah, mungkin ini hanyalah ilusi. Aku terlalu memikirkannya. Tapi tidak, dia benar-benar Bisma. Senyumnya yang merekah semakin membuatku mengerutkan dahi.
            “Kenapa?” tanya Bisma dengan memandang netbook putih di tanganku.
            “Eh, em. Ini, mendadak mati,” jawabku gelagapan karena masih tak percaya jika yang dihadapanku benar-benar Bisma.
            “Boleh liat?” tanya Bisma lagi.
            “Boleh,” seketika aku mengangkat netbook dan meletakannya di pangkuan Bisma. Ah, dia selalu berhasil membuatu salah tingkah.
            Diam, sepertinya dia serius melakukan sesuatu. Aku hanya bisa terus memperhatikannya ditemani langit jingga. Tak lama kemudian netbooku menyala, akan tetapi layar tetap hitam. Hanya ada tulisan putih dengan bahasa pemprograman.
            “Windowsnya eror. Harus diprogram ulang,” ucap Bisma kemudian.
            “Yah, gimana benerinnya?” keluhku sekaligus bertanya.
            “Mungkin aku bisa, tapi butuh waktu lama, mau?” jawab Bisma sambil menoleh ke arahku.
            “Iya deh, lama juga ngak pa pa asal bisa bener lagi. Bawa pulang aja netbookku.” Jawabku yang merasa hari sudah sore.
Gerimis kecil perlahan turun mengguyur bumi. Bisma langsung mendekap netbook dibalik jaketnya. Kami berdiri dan berteduh di bawah pohon yang cukup rindang. Kami berdua di sini. Menikmati gerimis yang dihias dengan matahai yang mulai menyusup bersembunyi dan juntaian sunset yang membentang, hal yang selalu kunanti setiap sore.
            Bodoh, dasar bodoh. Aku memaang bodoh. Kenapa aku membiarkan Bisma yang membenarkan netbookku. Aku takut dia membacanya, membaca semuanya. Aku malu, ah bodoh. Kenapa folder diary harus terpampang di dekstop. Kenapa tidak di sembunyikan saja dengan kata sandi.
            Bodoh, bodoh, bodoh. Tak hentinya aku memukul-mukul bantal yang tak berslah. Baru saja tadi sore aku merasa lebih baik atas rasa ini. Sedangkan saat ini harus terus menyalahan diri sendiri. Aku benci diriku.
            Rasanya hari ini berlalu tanpa sebuah kejadian. Sepi dan memuakan. Aku hanya duduk diam di kelas meski jam menunjukan waktu istirahat. Aku tak peduli jika hanya ada Bisma di depan sana. Tak ada orang lain di kelasa ini selain aku dan Bisma. Ah, aku ingin sejenak melupakan keresahan ini.
            “Nih.” Lagi-lagi Bisma mengagetanku. Dia meletakan netbook di depanku.
            “Thanks,” aku mencoba menjawab dengan ekspresi sedatar mungki.
            Dengan tergesa-gesa aku melangkah. Menyusuri koridor sekolah yang sudah lenggang. Langkahku membawa ke sebuah sudut sekolah tepat di lantai paling atas yang tak ada siapapun. Aku sering berada di sini setiap pulang sekolah untuk melihat awan. Aku suka ketenangan tempat ini.
            Tubuhku sudah terhempas di atas lantai yang dingin. Tanganku sibuk mengeluarkan netbook dan menyalakannya. Entah mengapa, aku ingin memastikan keadaan netbookku. Walaupun jika Bisma membukanya tak akan ada jejak, entah mengapa aku ingin memeriksanya.

Jemariku menggeser kursor dan mengkliknya pada folder dekstop yang bernama “My Dairy”. Dalam folder itu seharusnya ada dua folder lagi. Folder yang berisi puisi dan coretan. Tapi .... Ah, ada satu file diantara dua folder. Nama file itu membuatku mengerutkan kening. “From Me”. Perlahan jariku mengarahkan kursor pada file. Menklikny dua kali aga terbuka.

Setiap detik ku menanti hingga saatnya bertemu dengan dirimu
Menit demi menit hilang kulalui tiada tenang
Hati ini gelisah, hati ini resah menanti esok hari
Menanti datangnya pagi, perjumpaan denganmu selalu ku tunggu
Bila bukan cinta, mengapa hatiku menyimpan dirimu
Bila bukan sayang mengapa hari-hariku tak lengkap tanpa kehadiranmu
Dan bila bukan suka mengapa mataku slalu mencari bayangmu dan telingaku mencari suaramu

            Apa mungin yang menulis file itu Bisma. Ah, apa maksudnya? Tak mungkin dia melakukannya. Tapi, jika bukan dia, siapa lagi? Dasar, Bisma selalu saja membuat hatiku bergejolak. Membuat semua rasa bercampur aduk.
            Kau tahu? Saat ini di kelas aku berusaha tak memperhatikan Bisma. Entah aku yang ge er atau bagaimana, yang pasti Bisma sering tetangkap basah oleh mataku. Ingin rasanya aku menanyakan tentang file itu. Tapi, bagaimana caranya? Tak mungkin aku menghampirinya. Bahkan, di kelas ini aku tak pernah berbicara dengannya. Sudah kubilang dari awal, aku hanya, mencintanya dalam diam. Tak ada yang bisa diceritakan dengan sebuah percakapan. Hanya ada rasa ini. Ya, rasa ini.
            Tanganku besembunyi di dalam saku jumper. Aku suka menyendiri. Melihat awan, senja, dan bintang. Udara malam Kota Bandung yang dingin tak bisa menghalangiku keluar rumah untu mencari tempat sunyi.
            Di sinilah aku terbiasa duduk sendiri, memandang langit kelam yang berhiaskan bulan dengan taburan sedikit bintang. Jika bukan malam minggu, taman ini selalu sepi. Hanya menyisakan beberapa rimbun semak dan pohon yang tertata. Tak ada yang berlalu lalang atau sekedar duduk kecuali aku.
            “Hei,” lagi-lagi suara serak ini mngagetkanku. Membuatku yang mengenal pemiliknya menoleh. Siapa lagi jika bukan Bisma, mata kami beradu agak lama. Lebih lama dari biasanya. Bahkan aku belum sempat menjawab sapaannya. Ah, selalu saja. Jantungku melompat-lompat tanpa henti.

0 komentar: